Akhirnya update lagi, setelah sekian lama vakum dan rehat (lebih
tepatnya selama ini tidak sempat nulis). Alhamdulillah sekarang
terciptalah satu tulisan baru. Kali ini saya nulis karena memang ingin
menyempat-nyempatkan nulis guna menanggapi fenomena Lebaran di negara
saya, Indonesia, yang unik dan bikin gemes. Sebelum masuk ke pembahasan
inti, perlu saya sampaikan bahwa isi dari tulisan ini murni analisis
dari otak saya berdasarkan referensi yang saya terima. Jangan langsung
percaya dengan apapun saya tulis di sini, karena tulisan ini sifatnya
diskusi untuk mencapai kebenaran. Anda sebagai pembaca harus kritis dan
objektif saat membaca.
Dua versi lebaran. Sebenarnya hal ini adalah fenomena klasik di negeri ini. Karena memang di sini mayoritas penduduk muslim, dan ormas islam juga bermacam-macam, alhasil tercipta variasi metode penentuan hari raya Idul Fitri. Secara umum, metode penentuan hari raya Idul Fitri terbagi menjadi dua, yaitu metode hisab (perhitungan matematis) dan rukyat (pengamatan langsung hilal). Metode hisab pun sebenarnya bermacam-macam, namun di sini saya tidak akan membahas itu, karena akan sangat panjang. Nah, dari macam-macam metode ini terkadang menimbulkan ketidaksamaan hasil. Ujung-ujungnya semua itu akan dirapatkan di suatu forum yang biasa disebut Sidang Isbat. Semua perwakilan yang hadir akan menyampaikan laporan penentuan hari raya berdasarkan metode yang mereka lakukan. Setelah itu mereka merapatkan untuk mengambil keputusan kapan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri.
Nah, setelah pemerintah memutuskan kapan
jatuhnya hari raya Idul Fitri, ternyata ormas lain masih ada yang
tetap tidak sepakat. Oke, tidak sependapat memang bukanlah hal yang
buruk. Pemerintah pun mengizinkannya untuk merayakan Idul Fitri sesuai
keyakinan mereka. Alhasil, jatuhnya 1 Syawal pun terbagi menjadi dua
versi, yaitu versi pemerintah dan non-pemerintah (dalam hal ini adalah
ormas yang menyatakan jatuhnya 1 Syawal berbeda dengan pemerintah).
Pertanyaan pun muncul dari masyarakat, "Yang bener kapan nih lebarannya? Besok atau lusa?". Untuk menghindari perpecahan antar umat, banyak pihak yang memberikan solusi dengan kalimat diplomatif seperti "Mau lebaran besok atau lusa ga perlu ribut. Semuanya benar. Yang ga benar itu yang ga puasa tapi ikut lebaran." atau "Perbedaan itu indah, bukan masalah, yang penting saling menghormati". Hampir semua media yang dijadikan referensi masyarakat menyatakan seperti itu. Akhirnya masyarakat pun punya pemikiran, "Ya udah deh, mau lebaran besok gak masalah, kalau lebaran lusa juga tinggal nambah puasa sehari. Meskipun lebarannya beda yang penting saling memaafkan dan menghormati ". Alhasil Idul Fitri berjalan lancar tanpa masalah. Oke, masalah selesai dan happy ending.
Itulah yang mungkin anda pikirkan dan rasakan. Tapi tidak untuk penulis. Justru ketika masyarakat berpikir semuanya baik-baik saja tanpa masalah, itulah problematika yang sedang kita hadapi sesungguhnya. Masalah utamanya adalah ketika masyarakat menerima tanpa berpikir lebih lanjut pernyataan bahwa kedua versi hari raya itu benar. Sungguh ironis bagaimana masyarakat menerima kebenaran.
Coba bayangkan misalkan saja si A mengatakan bahwa Api itu Panas, si B mengatakan bahwa Api itu Dingin. Semua orang memahami fakta bahwa yang namanya Api itu Panas, maka anda pasti akan memilih mempercayai si A daripada si B yang jelas-jelas pernyataannya keliru. Namun, apabila variabel Api diganti menjadi X, si A mengatakan bahwa X itu Panas dan si B mengatakan X itu Dingin, anda akan bingung memilih mana yang benar. Berbeda dengan api yang sudah kita dipahami realitasnya, X belum kita pahami. Namun jika misalkan muncul si C menyatakan bahwa A dan B itu benar, tergantung keyakinan masing-masing, manakah yang akan anda pilih? Jika dua-duanya benar, mungkinkah X, benda yang satu, itu memiliki keadaan Panas dan juga Dingin di kondisi yang sama? Sungguh tidak masuk akal jika dijawab semua benar.
Itulah kondisi masyarakat kita pada umumnya. Mereka hanya mau terima jadi tanpa banyak pikir. Apa yang disampaikan pemimpin terima apa adanya. Kita sebagai masyarakat harusnya kritis. Coba pikirkan ketika salah memilih hari lebaran. Jika ternyata besok adalah hari Lebaran yang sebenarnya, namun kita memilih Lebaran lusa, maka kita akan berpuasa keesokan harinya. Padahal, puasa di 1 Syawal haram hukumnya. Begitu pula sebaliknya.
So, bagaimanapun juga kebenaran itu seperti katanya Detective Conan, kebenaran itu senantiasa satu. Perbedaan untuk mencapai kebenaran memang harus dihargai. Namun, apabila berbicara menghargai perbedaan kebenaran itu sendiri, sungguh celaka bagi kita. Perlu diingat juga bahwa mayoritas tak selamanya benar, dan minoritas tak selamanya salah. Jadi, jangan cuma ikut-ikutan dengan alasan mayoritas.
Kemudian pesan dari penulis untuk para pemimpin yang ada di atas sana. Seharusnya Anda-anda semua segera diskusikan secara terbuka metode untuk menentukan tanggal-tanggal yang penting ini. Jangan buat masyarakat bingung terus. Jangan membohongi masyarakat dengan kata-kata seperti "semuanya benar" atau "perbedaan itu indah" untuk masalah seperti ini. Jangan menjadi kolot bersikukuh dengan metode yang dianut. Bersikaplah objektif dan ilmiah dalam pemecahan masalah.
Melihat kasus seperti ini, saya jadi kepikiran. Gimana kalo misalkan saya buat riset saja Penanggalan Kalender Hijriah dengan Algortima Bakajunichi (lumayan, dapat ide buat TA :D). Harusnya ada metode yang berlaku global, tidak parsial seperti saat ini.
Akhir kata, bila ada kata merangkai dusta, bila ada tingkah membekas luka, bila ada langkah menuntun petaka. Di hari yang fitri ini, kupinta maaf bila ada salah.
Minal Aidin wal Faizin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H
Salam dari admin a.k.a bakajunichi a.k.a Junian


Stuju, sebaiknya para pemimpin kita secepatnya menentukan metode yang tepat untuk penanggalan hijriah, agar tidak terjadi lagi penyimpangan yang membuat masyarakat kebingungan, untuk menentukan pilihan.
ReplyDelete